Selasa, 28 Mei 2013

Empat Hal Yang Membuat Bos Jadi Buruk

Empat Hal Yang Membuat Bos Jadi Buruk



Menjadi atau memiliki seorang atasan yang buruk tentu bukan impian. Seorang bos memiliki otoritas dan fungsi yang penting dalam menjalankan sebuah bisnis. Kenalilah tanda-tanda seorang bos yang buruk. Bila Anda memiliki satu dari sembilan ciri seperti yang dirilis Inc.com berikut, maka Anda perlu berhati-hati.

1. Manajemen adalah perintah dan kontrol
Bos yang buruk mempercayai bahwa tugasnya adalah menyuruh karyawan untuk melakukan sesuatu dan memastikan mereka benar-benar melakukannya. Bos yang baik membantu karyawannya untuk lebih sukses dan membuat keputusan sulit yang tidak bisa diselesaikan karyawannya.

2. Karyawan harus mau bekerja lebih lama
Bos yang buruk menganggap bahwa karyawan yang tidak mau bekerja 60 jam seminggu adalah karyawan yang pemalas. Sebaliknya, bos yang baik mengetahui bahwa memaksa karyawan untuk bekerja lebih dari 40 jam seminggu akan mengurangi produktivitas.

3. Saya mengelola angka, bukan orang
Bos yang buruk mengerahkan seluruh energinya untuk memastikan angka-angka yang muncul di laporan adalah angka yang tinggi, meski kadang harus mengubahnya. Bos yang baik tahu bahwa untuk mencapai angka yang tinggi adalah dengan mendukung karyawannya untuk mencapai angka mereka.

4. Bila saya ingin sesuatu selesai, maka saya mengerjakannya sendiri
Bos yang buruk berpikir bahwa ia adalah pemain utama yang dapat menyelesaikan semua masalah dengan mengambil alih kembali otoritas dan tanggung jawab. Bos yang baik menyadari bahwa kepemimpinan yang sebenarnya adalah memotivasi karyawan-karyawannya untuk membuat kesuksesan dan kegagalan mereka sendiri.


Artikel: http://the-marketeers.com/archives/e...adi-buruk.html

Empat Cara Menjadi Pribadi yang Produktif

Empat Cara Menjadi Pribadi yang Produktif



Untuk menjadi orang yang produktif dalam bekerja sebenarnya tidaklah sulit. Semua bisa dikendalikan oleh diri sendiri asal Anda bisa menerapkan empat hal berikut:

1. Find The Moodbooster

Yap! Temukanlah Moodbooster yang bisa membuat Anda semangat bekerja. Jika Anda berhasil membuat diri Anda sendiri semangat maka Anda akan tidak mudah merasa lelah dan frustasi. Jika Anda berhasil mengangkat mood Anda untuk bekerja, maka pekerjaan sesulit apapun akan terasa ringan dikerjakan.

2. Make a Short List

Buatlah daftar apa yang akan Anda kerjakan di hari itu. Anggaplah daftar-daftar tersebut sebagai target Anda yang harus Anda capai. Jika Anda berhasil mengerjakan semua yang ada di daftar dan masih ada waktu untuk mengerjakan pekerjaan lainnya, cobalah mengerjakannya di hari itu juga, itu berarti Anda melebihi target yang sudah Anda tulis di daftar.

3. Say No To “Them”

Terkadang banyak godaan-godaan yang membuat Anda teralihkan dari pekerjaan Anda. Sebanyak apapun godaan-godaan yang datang jika Anda bisa berkata TIDAK kepada “mereka” maka semangat Anda untuk bekerja tidak akan goyah. Tetapi ada saatnya Anda harus mencari udara segar untuk sekedar meregangkan otot dan merefresh otak Anda sejenak. Lalu lanjutkan pekerjaan Anda dengan semangat yang sama, bahkan lebih besar dari sebelumnya.

4. Focus!

Last but Not Least. Fokus! Iya, fokus lah pada yang Anda kerjakan. Sebesar apapun semangat Anda, tapi jika Anda tidak bisa fokus maka pekerjaan Anda akan tidak selesai tepat waktu atau malah menjadi berantakan. Jika Anda sudah mulai kehilangan fokus Anda, cobalah istirahat sebentar atau minumlah segelas air putih atau mungkin kopi agar bisa mengembalikan fokus Anda.

So, what Are You Waiting For? Let’s Get Work!


Artikel: http://the-marketeers.com/archives/e...produktif.html

5 Cara Melewati Fase Awal Bisnis

5 Cara Melewati Fase Awal Bisnis



Pertama kali memulai bisnis bisa sangat menyusahkan. Stres, depresi, dan berbagai tekanan resiko datang silih berganti seiring ketidakpastian yang muncul. Naik turun bisnis biasa terjadi sebelum akhirnya perusahaan dapat bertahan dan terus mengembangkan diri menjadi organisasi yang mapan. Hampir 80 persen bisnis pemula biasanya gagal dalam lima tahun pertama. Namun bukan berarti tidak ada yang bisa dilakukan. Berikut adalah lima langkah yang dapat dilakukan untuk membuat sebuah bisnis pemula mampu melewati fase awal (startup) seperti dilansir Mashable.

1. Mulailah dengan Ide Hebat
Memiliki ide hebat sangat penting bagi sebuah bisnis pemula, baik itu berupa produk baru ataupun inovasi jasa. Perusahaan dapat berkembang dengan stabil bila ide hebat yang ada telah dilengkapi pasar potensial yang akan menerimanya. Selain itu, ide hebat juga akan membuat investor datang mengantri untuk ambil bagian. Bila ide yang telah ada tidak mampu mendatangkan investor, maka ide tersebut perlu dimodifikasi lebih lanjut dan terus dikembangkan.

2. Temukan orang-orang hebat
Dalam masa awal sebuah bisnis, menemukan karyawan yang tepat sangat penting. Pada tahap ini, sepuluh orang karyawan pertama perusahaan haruslah orang-orang yang super kreatif, multi-tasking, dan generalis. Namun seiring perjalan perusahaan, kebutuhan terhadap karyawan akan mulai berbeda. Pada tahap selanjutnya, orang-orang yang dibutuhkan akan lebih spesialis dan menguasai bidang yang spesifik agar menghindari terjadinya kesalahan.

3. Tidak harus MBA
Mungkin sebuah gelar pendidikan dapat menjadi indikator kemampuan, namun tidak berarti bahwa orang yang tidak memiliki gelar tidak pula memiliki kemampuan. Orang-orang seperti Bill Gates dan Steve Jobs juga tidak memiliki gelar, baik sarjana maupun master. Hal terpenting bagi klien adalah bagaimana masalahnya dapat dipecahkan, bukan meributkan gelar ataupun sekolah.

4. Jangan terlalu terikat
Saat bisnis mulai berkembang, maka kebutuhan terhadap karyawan dengan kemampuan tertentu akan semakin tinggi. Pada tahap ini, akan ada karyawan-karyawan yang bisa mengikuti perubahan dan ada pula yang tidak. Kadang karyawan yang ikut membangun perusahaan dari awal tidak dapat dipertahankan karena memiliki visi atau kapasitas yang berbeda. Oleh karena itu, penting bagi seorang entrepreneur untuk tidak terlalu terikat agar mampu menjaga objektifitas keputusan.

5. Selalu transparan
Bagi bisnis pemula, transparansi merupakan hal yang krusial. Manajemen harus menyadari bahwa resiko ketidakpastian yang ditanggung karyawan dengan bekerja pada perusahaan pemula juga tinggi seperti halnya resiko perusahaan itu sendiri. Oleh karena itu, transparansi akan menjadikan komunikasi manajemen dengan karyawan lebih mudah. Dengan transparansi, komitmen dan loyalitas karyawan juga dapat ditingkatkan.


Artikel: http://the-marketeers.com/archives/5...pada-2013.html