Rabu, 12 Juni 2013

Tony Hsieh Berbagi Kisah Suksesnya bersama Zappos

Tony Hsieh Berbagi Kisah Suksesnya bersama Zappos



Kisahnya bermula dari Tony Hsieh yang pindah dari Taiwan ke Amerika Serikat bersama keluarganya karena ibunya kuliah di University of Illinois. Sejak kecil, Tony memang dididik untuk menjadi seseorang yang intelek dan memiliki profesi prestisius. Ia bahkan didorong oleh kedua orang tuanya untuk mendapatkan gelar Ph.D (doctor of philosophy).

Namun, sejak kecil Tony sebenarnya ingin memiliki bisnis sendiri. Ia pun sempat bercita-cita untuk memiliki peternakan cacing terbesar dan mendapatkan banyak uang darinya. Saat masih kecil, Tony bahkan sudah sempat membeli cacing-cacing untuk dikembangbiakkan, tapi usahanya kandas.

Ide-ide berbisnisnya pun terus muncul seiring ia tumbuh besar. Saat SMP, ia mencoba menulis dan menjual majalahnya sendiri. Selain itu, ia juga sempat berbisnis kancing pesanan, di mana ia beriklan di sebuah majalah dan mengumumkan bahwa ia akan membuat kancing dengan foto sang pemesan. Bisnisnya sebenarnya sudah cukup sukses, karena ia pun kewalahan membuat kancing pesanan. Namun, lama-lama ia menjadi bosan, dan “mewariskan” bisnisnya itu pada saudaranya.

Waktu pun berlalu, dan di bangku kuliah pun Tony masih terus memiliki ide bisnis yang bermunculan. Di universitasnya, Harvard University, ia dan teman-temannya bahkan sempat menyewakan tempat nonton film dan menginvestasikan $2000 untuk membangun bisnis pizza. Lagi-lagi bisnisnya laris manis, karena mereka satu-satunya penjual pizza di lingkungan kampus.

Nah, ketika lulus kuliah, Tony sempat bekerja di Oracle, sebuah perusahaan software terkemuka. Gaji yang ia terima di sana sebenarnya sangat besar ($ 40,000 / Rp 400 juta per tahun) dan pekerjaannya juga cukup mudah. Tapi justru itulah sebab mengapa Tony bosan dan menginginkan tantangan baru. Ia masih ingin mewujudkan mimpinya untuk memiliki kebebasan dengan bisnisnya sendiri.

Setelah mengundurkan diri dari Oracle, ia dan rekannya pun sempat mendirikan usaha web design, sampai mendirikan LinkExchange yang akhirnya sukses terjual seharga $265 juta (sekitar Rp 2.65 trilyun) pada Microsoft. Belum cukup sampai di situ, Tony dan rekan-rekannya merasa masih ada yang hilang meski mereka sudah kaya raya.

Tony pun bertemu dengan Nick Swinmurn yang menawarkan ide untuk membuat situs yang menjual sepatu. Tony pun setuju, dan akhirnya memberi nama situs tersebut Zappos di tahun 1999, yang diambil dari bahasa Spanyol Zapatos, yang berarti sepatu.

Zappos pun terus berkembang dengan pesat, dari nol penjualan sampai laba kotor $1 milyar tiap tahunnya. Masih belum berhenti sampai di situ, perusahaan raksasa Amazon milik Jeff Bezos pun membeli Zappos di tahun 2009 seharga $1.7 milyar (sekitar Rp 17 trilyun) dan terus berkembang sampai sekarang dengan diversifikasi produk di luar sepatu.

Di bulan Januari 2010, Zappos berhasil masuk jajaran majalan Fortune untuk “Best Companies to Work for" – perusahaan terbaik untuk bekerja.

Apakah rahasia Zappos sampai bisa sesukses ini?

Jawabannya ada pada budaya perusahaan (company culture).

Jika pada diri pribadi seseorang, karakter adalah kunci sukses. Tapi, bagi sebuah perusahaan budaya adalah kunci sukses.

Zappos memperlakukan pekerja mereka lebih dari seorang karyawan. Sampai-sampai, seorang karyawati yang baru saja kehilangan suaminya memutuskan untuk langsung menelpon teman-temannya di Zappos, bukannya anggota keluarga.

Zappos juga mendorong pekerja-pekerjanya untuk bekerja sepenuh hati. Mereka didorong untuk menganggap pekerjaan mereka lebih dari sekedar karir, melainkan sebagai sebuah panggilan.

“Our goal at Zappos is for our employees to think of their work not as a job or career, but as calling.”

Zappos memiliki prinsip untuk terus memuaskan pelanggan dengan tulus, selalu membuat mereka berkata “Wow!”, dan pelayanan pelanggan lain. Uang dan laba hanyalah bonus bagi mereka.


Apa yang ingin dicapai Tony bukanlah uang semata, melainkan memberikan kebahagiaan kepada dunia melalui Zappos.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar